Gudeg Jogja

Jumat, 30 Maret 2012


Begitu sering mendengar kata gudeg, tapi yang kepikir cuman rasanya itu yang khas, sayur gudeg-nya yang manis.

Bagi yang bukan orang jawa biasanya nggak begitu suka karena rasanya yang manis ini. Kalau terpaksa paling cuman ambil lauknya aja kan bos? Gudeg nangka-nya, maksudnya sayuran nggak diambil hehehehe…

Ya begitulah gudeg, sudah banyak yang kenal gudeg tapi belum tahu bagaimana sebenarnya asal gudeg ini. Berikut sedikit cuplikannya. Menyebut gudeg Jogja, otomatis ingatan kita akan tertuju pada sebuah kampung yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara Kraton Jogja.

Dari kampung inilah, masakan khas yang berbahan dasar ‘gori’ ini menjadi populer hingga seantero dunia. Tak heran wisatawan yang berkunjung ke Jogja rasanya kurang lengkap jika belum menyantap gudeg di tempat ini.

Warung gudeg yang berderet di sebelah selatan Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) ini memiliki sejarah panjang. Ibu Slamet adalah orang pertama yang merintis usaha warung gudeg di tahun 1942.

Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang kemudian dikenal dengan sebutan Gudeg Yu Djum yang begitu terkenal sampai sekarang.

Ketiga warung gudeg tersebut mampu bertahan hingga 40 tahun. Sayangnya, tahun 1980’an Warung Campur Sari tutup. Baru 13 tahun kemudian muncul satu lagi warung gudeg dengan label Gudeg Ibu Lies. Dan sampai sekarang, warung gudeg yang berjajar di sepanjang jalan Wijilan ini tak kurang dari sepuluh buah.

Gudeg Wijilan memang bercita rasa khas, berbeda dengan gudeg pada umumnya. Gudegnya kering dengan rasa manis. Cara memasaknya pun berbeda, buah nangka muda (gori) direbus di atas tunggu sekitar 100 derajat celcius selama 24 jam untuk menguapkan kuahnya.

Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek dipindang yang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas merupakan paduan sayur tempe dan sambal krecek.

Ketahanan gudeg Wijilan ini memang cocok sebagai oleh-oleh, karena merupakan gudeg kering, maka tidak mudah basi dan mampu bertahan hingga 3 hari. Tak heran jika gudeg dari Wijilan ini sudah “terbang” ke berpabagi pelosok tanah air, bahkan dunia.

Harganya pun variatif, mulai dari Rp 20.000,- sampai Rp 100.000,-, tergantung lauk yang dipilih dan jenis kemasannya. Bahkan ada yang menawarkan paket hemat Rp 5.000, dengan lauk tahu, tempe, dan telur.
jika malam hari maka tempat yg banyak menjajakan gudeg adalah hampir sepanjang jl urip sumoharjo (jl solo), di mulai pulul 10 hingga dini hari, jadi dari pagi hingga pagi lagi anda dapat menikmati gudeng sepuasnya..........

Mie Celor

Satu lagi kuliner khas Palembang yang harus di ketahui dan tentunya di cicipi, namanya adalah mie celor. selama ini kita mungkin mengenal palembang dengan empek-empek atau yang sudah saya tampilkan sebelumnya yaitu celimpungan. Ternyata palembang juga memiliki kuliner khas lain yang berbahan dasar mie dan di beri nma mie celor.

Mie dari mie celor ini terbuat dari mie basah biasa. Yang berbeda adalah kuahnya. Kuahnya agak kental dan diberi udang. Yang khas dari mie celor adalah irisan telur rebus plus toge rebus yang dimakan bersama mie dan kuah udang tadi. Rasanya agak hot sedikit karena dicampur dengan cabe merah. Tapi biasanya wong Palembang akan makan dengan cabe hijau halus yang telah tersedia di masing-masing meja restoran karena kurang pedas, katanya. tapi bagi yang kurang suka dengan pedas mie celor juga sudah cukup pedas.

Selain itu, di setiap meja makan disediakan kerupuk ikan palembang atau rempeyek kacang. Tentunya tidak gratis, harus bayar terpisah tergantung jumlah kerupuk atau rempeyek yang dimakan. Harga seporsi mie celor adalah Rp 10.000, jadi anda tidak perlu "pusing " setelah menyantap salah satu kuliner khas palembang ini.

untuk kita yang tinggal jauh dari palembang tidak perlu khawatir tidak bisa menikmati kuliner khas ini, karena kita bisa membuatnya sendiri di rumah. bahan yang di gunakan relatif mudah di dapat dan membuatnya pun tidak susah-susah baget. silahkan klik disini untuk melihat resep dan cara membua mie celor khas palembang ini.

Salah satu restoran atau tempat makan mie celor asli Palembang yang terkenal terletak di Jalan Pasar 26 Ilir. Restorannya tidak begitu besar dan sederhana, tetapi banyak pejabat negara yang mampir ke restoran ini untuk menikmati rasa mie celornya yang lezat. Dan konon restoran ini bahkan menjadi langganan gubernur Sumatera Selatan jika beliau atau keluarganya memiliki hajatan.

Bubur Pedas Makanan Khas Kalimantan Barat

Bubur pedas merupakan salah satu jenis makanan khas yang berasal dari Sambas Kalimantan Barat. Tidak menyangka ketika tim PB2010 datang ke Pontianak dalam rangka kegiatan Roadshow 10 Kota di Indonesia, Mbak Rara yang merupakan Ketua Pesta Blogger 2010 langsung menanyakan dimana tempat orang menjual makanan khas Kalimantan Barat ini. Wah, ternyata nama BUBUR PEDAS cukup terkenal dan telah menjadi momok menyenangkan bagi penggemarnya diluar sana. Oke deh mbak, nih saya kasih tahu tempatnya : Pondok Burdas alias Bubur Pedas di Jl. Merdeka Barat tepat berada diseberang lokasi kampus STMIK Pontianak. Mohon maaf sebelumnya kali ini belum sempat menemankan tim PB2010 karena berhubung masih ada kesibukan lain. Peacee…
Di lain waktu, saya menyempatkan singgah di tempat yang berukuran sekitar 4×2 meter ini. Dengan beratapkan tenda oranye dan bernuansa oranye juga, tempat ini terlihat lebih “terang” sehingga tetap akan menjadi perhatian orang yang lewat meskipun sekilas. Meskipun BUBUR PEDAS termasuk dalam salah satu jenis makanan khas Kalimantan Barat, namun masih agak sulit untuk mencari lokasi orang yang menjualnya di Pontianak. Tidak tahu kenapa, apakah karena kurang peminatnya sehingga tidak banyak yang mau menjualnya ataukah karena berasal dari Sambas maka lebih banyak dijual didaerah sana. Itu tetap menjadi pertanyaan misteri sampai saat ini, hehehe…
Akhirnya pesanan BUBUR PEDAS nya datang juga. Jika dilihat sepintas, tampilan BUBUR PEDAS ini tampak seperti makanan yang tidak karuan bentuknya. Eitttsss… Jangan salah pengertian dulu ya. Meskipun makanan ini terlihat tidak karuan, namun gizi yang dikandungnya luar biasa sangat banyak. Dapat dibayangkan seberapa besar kandungan gizinya jika beras yang dihaluskan dikombinasikan dengan campuran sayur mayur seperti kangkung, pakis, daun kesum, dan lain-lain, dipadukan dengan gorengan kacang tanah plus ikan teri yang digoreng kering, kalau boleh mengambil istilahnya Pak Bondan Winarno sih makanan ini MAK NYOSSSS…

Ayam Tangkap special Aceh Besar

Ada banyak sekali ragam citarasa makanan dari olahan Ayam, memang ayam begitu populer diseluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia, kita mengenal begitu banyak nama makanan yang diawali dengan ayam, seperti ayam bakar, ayam goreng, ayam penyet, ayam rendang dll. Bahkan di berbagai wilayah memiliki sebutan tersendiri.

Kalau anda pernah ke Aceh khususnya ke Banda Aceh dan Aceh Besar, tentu mengenal satu menu istimewa yang disebut Ayam Tangkap. Konon nama ini diberikan karena ayam yang disajikan sebagai menu special ini adalah ayam kampung, jadi mesti ditangkap dulu.. mm bisa jadi ya?
DI Aceh, kebiasaan menyantap ayam tangkap sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Aceh. Utamanya bagi saat kenduri, atau disaat bulan Ramadhan, biasanya ayam tangkap disajikan bersama sate, ikan bakar, gulai plieku, dan emping goreng.

Pengolahan ayam ini tidaklah sulit, hanya digoreng yang sebelumnya sudah diberi bumbu terlebih dahulu agar gurih saat disantap. Bumbu yang digunakan seperti bawang putih, lada, kemiri, garam, dan jahe.

Setelah dibumbui, ayam lalu digoreng sekitar 5–10 menit. Pada saat bersamaan, dimasukkan beberapa genggam daun yang akan disajikan bersama ayam. Jadi, rasa rempah dedaunan turut meresap ke dalam daging ayam.

Daun yang digunakan, di antaranya daun kari, potongan daun pandan, dan salam koja. Dedaunan itu pula yang kemudian menutupi sajian ayam tangkap di setangkup piring. Tak ayal, bercampurlah aroma wangi dedaunan.

Setelah ayam matang, dedaunan ini memang tetap disajikan dengan menutupi ayam. Jadi, ayam sengaja diletakkan di bawah dedaunan. Dedaunan ini selain sebagai daya tarik hidangan, sekaligus bisa dijadikan sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam. Kalau masih hangat, dedaunan ini kering dan krenyes, seperti kerupuk.

Ayam tangkap mulai melejit pada 1990-an dan hingga kini masih menjadi pilihan para wisatawan dari luar  Aceh. Respons yang diberikan penikmat kuliner ini pun cukup positif. Terbukti, kunjungan ke Aceh bagi sebagian orang belum lengkap tanpa singgah di warung makan dan mencicipi ayam tangkap yang kelezatannya tak diragukan lagi.

Di Aceh, untuk mencari masakan ini tidak sulit. Sajian ayam tangkap yang merupakan makanan khas Aceh Besar ini bisa dijumpai di beberapa restoran di Banda Aceh, termasuk di Aceh Besar.

Makanan Khas Jakarta DKI Betawi

1. Kerak Telor
Makanan khas yang satu ini identik dengan event Pekan Raya Jakarta (PRJ). Anda bisa membeli setiap ada PRJ di selenggarakan. Sekarang ini, makanan kerak telor yang asli betawi ini menjadi makanan langka.

Kerak telor memiliki rasa yang gurih. Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat kerak telor yaitu beras ketan putih, telur ayam atau bebek, udang yang digoreng kering, bawang merah goreng, kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam, dan gula pasir. Rasa gurih pada kerak telor bersumber dari campuran udang, bawang merah, kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, dan gula pasir.

2. Kembang Goyang
Makanan khas Betawi Jakarta ini, kini juga sudah mulai jarang ditemui. Rasanya yang gurih sangat sesuai untuk dijadikan sebagai teman minum teh.

3. Roti Buaya
Makanan khas DKI jakarta ini sering di jumpai saat ada upacara lamaran. Makanan dengan bentuk buaya ini penciptaannya terinspirasi dari kebiasaan buaya yang hanya menikah sekali sepanjang hidupnya. Oleh karena iti roti buaya sering dijadikan sebagai simbol kesetiaan pasangan yang telah menikah. Roti buaya ini biasanya selalu hadir di setiap acara pernikahan adat Betawi.

4. Kue Rangi
Makanan khas dari Betawi ini kini juga jarang ditemui. Kue ini terbuat dari tepung kanji yang dicampur dengan kelapa yang sudah diparut kasar. Untuk mendapatkan hasil yang bagus, dulu pada saat proses pembuatannya orang memanggang kue rangi ini dengan menggunakan api yang berasal dari kayu bakar atau arang. Kue yang di hasilkan menjadi lebih wangi dan harum.

Makanan Khas Bali yang Tiada Duanya

4 tahun kuliah dan tinggal di Jakarta cukup membuat saya cukup stress karena makanannya yang tidak begitu saya suka. Beberapa hari lalu untungnya saya berkesempatan ke Bandung untuk merasakan kuliner yang agak berbeda di simpang Dago. Namun saya tidak akan membicarakan kuliner Bandung di tulisan ini. Saya, mungkin bisa dibilang orang “ndeso” karena sedari kecil sudah biasa makanan rumah dan bukan makanan siap saji sejenis pizza, ayam sang jendral, maupun bento Jepang (Tahu sendirilah merknya). Khusus untuk bento jepang, saya bahkan heran karena beberapa teman saya sangat menyukai bento Jepang ini sehingga jika acara makan bareng selalu rumah makan bento Jepang ini yang disasar. Anggapan saya selalu sama terhadap bento Jepang ini, gak enak sama sekali karena rasanya hampir sebelas duabelas dengan nugget yang bisa dibeli di Supermarket.
Jika makan di warteg (rumah makan sejuta umat di Jakarta), walaupun murah tetapi tetap saja saya tidak bisa merasakan citarasa yang saya inginkan. Hampir seluruh lauk yang disajikan berasa manis mulai dari udang, tempe, cumi, aaargh semua terasa manis dan tidak cocok dengan lidah “Bali” saya yang sudah terbiasa suka pedas. Nasi Padang bisa sedikit mengobati rasa kangen saya terhadap rasa “pedas” masakan Bali.
Berbicara tentang masakan Bali, Orang lebih mengenal Betutu yaitu masakan khas Bali yang terbuat dari Ayam dengan taburan bumbu pedas. Atau bagi yang boleh memakan Babi, nasi be guling sudah tidak asing lagi jika berkunjung ke Bali karena ini adalah andalan masakan Bali sehingga jika anda main ke Bali pasti menemui warung makan be guling yang begitu banyaknya sehingga anda akan kebingungan dalam memilih warung yang memiliki masakan nasi be guling yang anda rasa enak. Mumpung sedang ngomongin makanan, saya ingin memberitahu saja 4 jenis makanan Bali yang mungkin terlewatkan karena tidak terlalu terkenal namun jangan meremehkan kenikmatannya.
Sambel dan Jukut Undis
Saya tidak tahu apakah di daerah selain Bali mengenal sayuran bernama “Undis”, yang pasti sayuran mirip kacang polong ini sangat popular di Bali. Biasanya “Undis” dibuat dengan cara direbus dengan berbagai rempah menjadi sayur undis kuah dengan kuah yang tentunya berwarna kehitam-hitaman namun kuah inilah yang saya sangat idolakan karena aroma dan tentu rasanya. Selain itu undis bisa dibuat sambal tentunya dengan sebutan sambal undis. Yang saya sempat amati campurannya adalah cabe, terasi, undis yang masih muda (bijinya berwarna hijau), beserta beberapa rempah lainnya. Rasanya? Wow, saya bisa 4 kali makan hanya dengan menyantap sambal undis ditemani sayur undis berkuah, berbeda dengan makan bento Jepang yang sekali saja saya gak akan mau nambah lagi (kapok uang dan kapok rasa). Sayang, ketika saya berlibur di Bali, undis muda jarang ditemukan sehingga hilang juga asa saya untuk menyantap sambal undis kesukaan saya.
Sudang
Memang namanya terasa asing di telinga tapi sebenarnya yang dimaksud dengan sudang adalah ikan yang diiris tipis lalu diasinkan. Sensasinya adalah ketika sudang digoreng lalu ditemani sambal lalah (pedas) ala Bali, waw, renyahnya menandingi ayam sang jendral. Sudang adalah salah satu makanan Khas Bali yang sepengetahuan saya berasal dari Buleleng (daerah asal saya). Sama ganasnya seperti makan undis, ketika ditemani makan oleh sudang dan sambal lalah, saya bisa menghabiskan 4 sudang dalam sekali makan sampai-sampai Ibu saya kadang memarahi saya karena hanya menyisakan sedikit untuk bapak dan 2 adik saya. Ada kesukaan saya yang kata ibu membuat saya mungkin jadi orang kaya yaitu makan sudang ditemani sambal minyak(campuran minyak, garam, plus cabe). Ya memang, kalau itu saja yang saya makan tiap hari di Jakarta,  uang yang ditabung akan sangat banyak mengingat dengan 1 ayam jendral saya bisa menukarnya dengan beberapa sudang, hahaha.


Blayag
Ini adalah makanan asli dari Buleleng (lagi) tepatnya di Singaraja. Makanan ini mirip ketupat namun bumbunya bukan kacang. Saya sendiri tidak tahu apa bahan dasar dari bumbunya, saya hanya tahu blayag terdiri dari urab sayur, kacang kedelai, dan gorengan ayam yang nanti semua bahan tadi dicampur menjadi satu dengan bumbu blayag. Ketika disantap maka sensasinya benar-benar memanjakan lidah, saya terutama paling suka rasa gorengan ayam yang begitu renyah. Biasanya saya memakan gorengan ayamnya paling terakhir dan menyisakan bumbunya banyak-banyak untuk memakannya bersama gorengan tadi. Dulu ketika saya masih SD, saya sering menunggu dagang blayag keliling yang biasanya akan mampir ke rumah. Keluarga saya akan berkumpul lalu membeli blayag untuk tiap orang yang sedang ada di rumah. Sekarang dagang Blayag bisa dijumpai hampir di seluruh kota Singaraja, namun rasa blayag yang tidak akan saya lupakan adalah dagang Blayag keliling yang dulu selalu saya tunggu dan berasal dari desa Penglatan dekat rumah saya.

Rujak Cuka
Ketika mendengar kata rujak, pikiran anda akan terbang ke irisan buah yang anda makan dengan  bumbu kacang. Tidak dengan saya, karena rujak Bali terutama rujak cuka bukan seperti yang tadi saya bilang. Semenjak di Jakarta saya baru tahu bahwa bumbu rujak yang dimaksud adalah kacang yang dicampur dengan gula aren, terasi, plus cabe. Sangat berbeda dengan rujak cuka yang saya kenal. Saya tidak begitu tahu apakah rujak cuka berasal dari Buleleng atau tidak, namun sewaktu saya memperkenalkannya kepada teman-teman saya yang berasal dari Tabanan, hampir semua tidak mengetahui rujak jenis ini dan hampir semua mengatakan rasa rujak ini “luar biasa” ketika mencobany. Rujak cuka tidaklah berbumbu kacang tetapi campuran dari terasi, cabe, cuka, gula aren, yang diulek sedimikan rupa lalu dicampur dengan berbagai macam buah seperti pepaya mengkel, ubi, jambu air, dan mentimun. Cara memotong buahnya (biasanya papaya dan ubi) tidak biasa namun dengan 2 cara yaitu “gobed” dan “cacah”. Gobed merujuk pada istilah mengiris buah sangat tipis dengan bantuan alat gobed sedangkan cacah yaitu memotongnya menjadi bentuk kubus, unik bukan? Segar dan pedas akan anda rasakan ketika memakan rujak cuka ini  karena anda merasakan cabe dan cuka dalam waktu yang bersamaan. Di dekat rumah saya terdapat dagang rujak cuka yang menurut saya menjual rujak dengan harga fantastis, hanya Rp.1000. Bento Jepang mungkin bisa ditukar 15 rujak cuka jika dilihat nilainya. Belakangan, saya menemukan makanan yang memiliki kemiripan dengan rujak cuka ini di luar pulau Bali bernama “asinan Bogor”
Untuk masalah dimana mendapatkan makanan tersebut saya agak bingung juga mencari jawabannya karena saya sendiri sudah lama tidak di Bali sehingga banyak rumah makan baru yang tidak saya ketahui apakah makanan-makanan di atas termasuk di dalam menunya.Yang saya tahu makanan Bali akan sangat saya rindukan saat kembali merantau di NTT. Setidaknya di NTT saya tidak menemukan makanan siap saji yang kadang bikin enek, hehe.

Makanan Khas Sunda

Sega Lengko
Nasi lengko ini bisa di jumpai dan merupakan makanan khas masyarakat pantai utara seperti Cirebon. Walaupun terlihat sederhana makanan khas ini sarat dengan protein dan serat juga makanan rendah kalori, karena bahan-bahan untuk membuat nasi lengko adalah 100% non-hewani. Bahan-bahannya untuk membaut nasi lengko ini antara lain: nasi putih ( lebih nikmat kalau masih panas atau hangat), tahu goreng, tempe goreng, mentimun untuk lalap, tauge yang sudah direbus, daun kucai (dipotong kecil-kecil), taburan bawang goreng, serta bumbu kacang (seperti bumbu rujak) dan kecap manis. Pada umumnya kecap manis yang sering dipergunakan adalah kecap manis encer, bukan yang kecap manis kental yang isiramkan ke atas semua bahan.

Karedok
Makanan karedok atau keredok adalah juga merupakan makanan khas daerah di Indonesia asal jawa barat. Makanan karedok ini dibuat dengan menggunakan bahan-bahan diantaranya adalah ketimun, ada tauge, kol, kacang panjang, daun kemangi, serta terong. Sedangkan untuk bahan sausnya dibuat dari bahan cabai merah, bawang putih, kencur, kacang tanah, air asam, gula jawa, garam, dan terasi.

Ladu
Makanan atau jajanan Ladu ini merupakan suatu penganan yang terbuat dari ketan. Makanan tradisional ini yang berasal dari daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat. Untuk pembuatan Ladu, bahan dasarnya terbuat dari tepung ketan putih sangrai, kemudian gula putih, gula aren merah, serta kelapa yang telah diparut.

Lotek
Makanan Lotek ini hampir mirip dengan pecel, yaitu jenis makanan dari beberapa sayuran yang sudah direbus kemudian disiram dengan menggunakan sambal dari bumbu bumbu kacang. Yang menjadi keunikan dari makanan ini yaitu bahan untuk sambalnya di samping kacang seringkali juga ditambahkan pakai tempe dan dalam bumbunya ditambahkan terasi, gula merah, dan bawang putih. Pada umumnya makanan lotek ini terasa sedikit lebih manis jika di bandingkan dengan pecel. Disamping itu kalau sambal pecel bumbunya sudah dicampur sebelumnya, sedangkan untuk lotek bumbu baru ditambahkan jika makanan akan dihidangkan. Makanan Lotek ini dapat disajikan dengan pakai lontong atau bisa juga pake nasi hangat, disertai dengan kerupuk dan taburan bawang goreng.

Rendang Kering Khas Sumatera Selatan


Racikan bumbu dibuah menjadi sedikit pedas dan berasam segar.
KOMPAS.com - Sejumlah pembeli menikmati masakan rendang kering dengan sayuran dan pindang patin di Kabupaten Muara Enim, Kamis (14/10) lalu. Masakan rendang yang selama ini identik dengan masakan khas Sumatera Barat ternyata bisa dimasak dan disajikan dengan gaya Sumatera Selatan.

Warung Makan Rendang boleh dibilang menjadi salah satu tempat kuliner yang cukup eksotik dan menyenangkan di wilayah Muara Enim. Rendang yang selama ini lebih dikenal sebagai makanan khas Sumatera Barat ternyata juga diolah secara menarik dan disajikan menjadi makanan khas Sumatera Selatan.

Pada Kamis (14/10) siang, panas terik membakar kota Muara Enim. Di salah satu lorong sempit di pusat kota tersebut, puluhan orang berjubel mengantre ke sebuah rumah makan yang lokasinya berada di suatu gang sempit.

Sepertinya benar pendapat sebagian masyarakat yang selalu mengatakan tempat kuliner yang bisa menyajikan sebuah masakan yang enak tetap akan dicari meskipun berada di lokasi terpencil. Hal inilah yang terjadi pada warung makan ”Rendang Datuk” di Jalan Pasar Kota, Muara Enim.

Dalam bahasa setempat, rendang datuk berarti rendang kering. Rendang tersebut dibuat dari daging sapi (empal) yang dikeringkan selama empat hari.

”Setelah setengah kering, baru kemudian bisa diproses menjadi rendang. Masakan rendang daging ini sangat sesuai jika disantap bersama pindang ikan maupun pindang tulang,” kata Rismaniar (40), pemilik rumah makan tersebut.

Ahli waris usaha
Rismaniar merupakan generasi kedua atau ahli waris usaha rumah makan yang didirikan oleh almarhum ayahnya, Min Nugraho, 20 tahun silam. Setelah kematian ayahnya lima tahun lalu, Rismaniar menjadi penerus usaha tersebut.

”Almarhum ibu sakit jadi tidak bisa meneruskan usaha ini. Setelah lulus sarjana, saya pikir-pikir kenapa tidak memanfaatkan peluang kerja yang sudah ada di depan mata,” ungkap ibu tiga anak tersebut.

Di tangan Rismaniar, perlahan-lahan usaha rumah makan tersebut mulai berkembang pesat. Langkah yang dilakukan antara lain rendang kering dicampuri abon sapi, serta dilengkapi dengan pindang patin dan pindang tulang. Dia juga mengubah racikan bumbu menjadi sedikit pedas dan berasam segar.
Butuh 30 kilogram
Jika kedua hal ini berhasil dipenuhi, Rismaniar yakin akan muncul kepercayaan dari pelanggan. Begitu pula dengan yang dialaminya saat menjalani bisnis rumah makan tersebut.

”Dua tahun lalu saya mulai mengubah bumbu dan cara penyajian. Hasilnya, pelanggan rumah makan ini melonjak tajam. Sampai-sampai, setiap hari saya harus berbelanja 30 kilogram daging sapi atau empal untuk memenuhi kebutuhan pelanggan,” katanya.

Harga satu porsi rendang kering yang ditawarkan pengelola rumah makan ”Rendang Datuk” ini cukup terjangkau bagi semua kalangan, yakni Rp 13.000. Jika ingin menambah sajian pelengkap seperti pindang patin atau pindang tulang, pelanggan tinggal menyiapkan uang Rp 7.000 saja. Jadi, total uang yang dibutuhkan untuk membeli rendang dan pindang itu tak lebih dari Rp 25.000.

”Perut sudah kenyang dan puas. Saya selalu mengajak istri makan rendang di sini karena rasanya bisa menggoyang lidah,” tutur Goffur (28), salah satu pelanggan yang ditemui di rumah makan tersebut.

Saking terkenalnya, pelanggan restoran tersebut ternyata tidak hanya berasal dari wilayah Muara Enim saja, tetapi dari berbagai kota/kabupaten di Sumsel lainnya. Menurut Rismaniar, dia sering menerima pelanggan dari perusahaan milik negara seperti PT Pertamina, PT Pusri, dan PT Bukit Asam.

”Biasanya, pelanggan dari kantoran ini mampir ke rumah makan saya ketika sedang berada dalam perjalanan dinas luar kota. Sebagian besar berasal dari Kota Palembang dan sebagian lainnya dari Kota Prabumulih. Pelanggan ini biasanya datang secara rombongan,” katanya.

Buka cabang
Saat ini, Rismaniar sedang berupaya untuk membuka cabang di Kota Palembang dan Prabumulih. Dia menargetkan kurang dari dua tahun, rencana pengembangan usaha itu bisa berjalan dengan baik.

Namun, saat ini Rismaniar masih terkendala penyiapan lahan. Menurut dia, sangat sulit untuk mencari lahan kosong di pusat kota Palembang dan Prabumulih. Padahal, lokasi merupakan salah satu syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu usaha.

makanan khas sumatra barat

Rendang
Kalau makanan yang satu ini, pastinya sudah banyak diketahui. Masakan Rendang daging yang berasal dari padang ini merupakan masakan tradisional yang bersantan. Bahan utamanya sudah pasti daging sapi. Masakan khas asil dari provinsi Sumatera Barat ini memang sangat disukai hampir semua orang, tapi yang menyukai masakn ini tidak hanya sebatas orang Indonesia saja lo, orang luar negeri juga banyak yang suka.

Dendeng Balado
Makanan ini juga identik dengan Padang. Dendeng balado merupakan masakan khas yang berasal dari Sumatera Barat, dan bahan utamanya juga dari daging sapi yang di iris tipis dan lebar. Kemudian daging ini dikeringkan kemudia digoreng hingga kering. Selanjutnya Daging yang sudah digoreng ini kemudian dibumbui dengan bumbu balado.

Gulai Banak
Masakan yang bernama Gulai banak ini adalah masakan berkuah santan dan pedas sebagai ciri khas dari masakan yang berasal dari Sumatera Barat. Gulai Banak ini berasal dari daerah Minangkabau. Sebagai baha utama dari Gulai Banak ini adalah otak sapi yang telah dipotong-potong. Untuk menambah nikmat, masyarakat Minangkabau Gmemberi irisan daun mangkok yang banyak. Hal ini katanya untuk menambah cita rasa yang amat khas.

Camilan Jananan Khas Sumatera Barat

Karupuak sanjai
Makanan Karupuak Sanjai merupakan sejenis jajanan atau penganan kerupuk yang terbuat dari bahan singkong. Cara pembuatannya, singkong diparut tipis kemudian digoreng dan diberi dengan garam sebagai penyedapnya. Makanan khas ini sangat terkenal dan populer dan sering beli wisatawan yang berlibur ke Bukittinggi, Sumatera barat sebagai oleh-oleh khas kota Bukitinggi. Rasanyapun beragam yaitu Karupuak Sanjai Tawar, kerupuk ini tidak menggunakan cabai/lado ataupun Gula merah melainkan hanya diberi garam. Kemudian Karupuak Sanjai Saka, kerupuk yang ini diberi/dioleskan Gula merah sehingga rasanya manis. Dan Karupuak Balado adalah Kerupuk yang sudah diberi bumbu balado dan rasanya pedas.

Galamai
Makanan Galamai merupakan salah satu jenis nama makanan kecil yang bahan utamanya memakai bahan dasar tepung beras ketan, gula aren serta santan yang berasal dari daerah Sumatera Barat. Makanan Galamai ini hampir sejenis ini jenang kalau di jawa tengah atau jawa timur dan dodol kalau di jawa barat.

Demikian informasi mengenai nama-nama makanan khas Padang dan daerah lain yang ada di Sumatera Barat, Indonesia.

makanan khas sumatra selatan

Makanan Khas Sumatra Selatan
Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih dan garam.
http://ragamkebudayaanindonesia.files.wordpress.com/2011/11/pempek-palembang.jpg?w=300&h=201