Makanan Khas Bali yang Tiada Duanya

Jumat, 30 Maret 2012

4 tahun kuliah dan tinggal di Jakarta cukup membuat saya cukup stress karena makanannya yang tidak begitu saya suka. Beberapa hari lalu untungnya saya berkesempatan ke Bandung untuk merasakan kuliner yang agak berbeda di simpang Dago. Namun saya tidak akan membicarakan kuliner Bandung di tulisan ini. Saya, mungkin bisa dibilang orang “ndeso” karena sedari kecil sudah biasa makanan rumah dan bukan makanan siap saji sejenis pizza, ayam sang jendral, maupun bento Jepang (Tahu sendirilah merknya). Khusus untuk bento jepang, saya bahkan heran karena beberapa teman saya sangat menyukai bento Jepang ini sehingga jika acara makan bareng selalu rumah makan bento Jepang ini yang disasar. Anggapan saya selalu sama terhadap bento Jepang ini, gak enak sama sekali karena rasanya hampir sebelas duabelas dengan nugget yang bisa dibeli di Supermarket.
Jika makan di warteg (rumah makan sejuta umat di Jakarta), walaupun murah tetapi tetap saja saya tidak bisa merasakan citarasa yang saya inginkan. Hampir seluruh lauk yang disajikan berasa manis mulai dari udang, tempe, cumi, aaargh semua terasa manis dan tidak cocok dengan lidah “Bali” saya yang sudah terbiasa suka pedas. Nasi Padang bisa sedikit mengobati rasa kangen saya terhadap rasa “pedas” masakan Bali.
Berbicara tentang masakan Bali, Orang lebih mengenal Betutu yaitu masakan khas Bali yang terbuat dari Ayam dengan taburan bumbu pedas. Atau bagi yang boleh memakan Babi, nasi be guling sudah tidak asing lagi jika berkunjung ke Bali karena ini adalah andalan masakan Bali sehingga jika anda main ke Bali pasti menemui warung makan be guling yang begitu banyaknya sehingga anda akan kebingungan dalam memilih warung yang memiliki masakan nasi be guling yang anda rasa enak. Mumpung sedang ngomongin makanan, saya ingin memberitahu saja 4 jenis makanan Bali yang mungkin terlewatkan karena tidak terlalu terkenal namun jangan meremehkan kenikmatannya.
Sambel dan Jukut Undis
Saya tidak tahu apakah di daerah selain Bali mengenal sayuran bernama “Undis”, yang pasti sayuran mirip kacang polong ini sangat popular di Bali. Biasanya “Undis” dibuat dengan cara direbus dengan berbagai rempah menjadi sayur undis kuah dengan kuah yang tentunya berwarna kehitam-hitaman namun kuah inilah yang saya sangat idolakan karena aroma dan tentu rasanya. Selain itu undis bisa dibuat sambal tentunya dengan sebutan sambal undis. Yang saya sempat amati campurannya adalah cabe, terasi, undis yang masih muda (bijinya berwarna hijau), beserta beberapa rempah lainnya. Rasanya? Wow, saya bisa 4 kali makan hanya dengan menyantap sambal undis ditemani sayur undis berkuah, berbeda dengan makan bento Jepang yang sekali saja saya gak akan mau nambah lagi (kapok uang dan kapok rasa). Sayang, ketika saya berlibur di Bali, undis muda jarang ditemukan sehingga hilang juga asa saya untuk menyantap sambal undis kesukaan saya.
Sudang
Memang namanya terasa asing di telinga tapi sebenarnya yang dimaksud dengan sudang adalah ikan yang diiris tipis lalu diasinkan. Sensasinya adalah ketika sudang digoreng lalu ditemani sambal lalah (pedas) ala Bali, waw, renyahnya menandingi ayam sang jendral. Sudang adalah salah satu makanan Khas Bali yang sepengetahuan saya berasal dari Buleleng (daerah asal saya). Sama ganasnya seperti makan undis, ketika ditemani makan oleh sudang dan sambal lalah, saya bisa menghabiskan 4 sudang dalam sekali makan sampai-sampai Ibu saya kadang memarahi saya karena hanya menyisakan sedikit untuk bapak dan 2 adik saya. Ada kesukaan saya yang kata ibu membuat saya mungkin jadi orang kaya yaitu makan sudang ditemani sambal minyak(campuran minyak, garam, plus cabe). Ya memang, kalau itu saja yang saya makan tiap hari di Jakarta,  uang yang ditabung akan sangat banyak mengingat dengan 1 ayam jendral saya bisa menukarnya dengan beberapa sudang, hahaha.


Blayag
Ini adalah makanan asli dari Buleleng (lagi) tepatnya di Singaraja. Makanan ini mirip ketupat namun bumbunya bukan kacang. Saya sendiri tidak tahu apa bahan dasar dari bumbunya, saya hanya tahu blayag terdiri dari urab sayur, kacang kedelai, dan gorengan ayam yang nanti semua bahan tadi dicampur menjadi satu dengan bumbu blayag. Ketika disantap maka sensasinya benar-benar memanjakan lidah, saya terutama paling suka rasa gorengan ayam yang begitu renyah. Biasanya saya memakan gorengan ayamnya paling terakhir dan menyisakan bumbunya banyak-banyak untuk memakannya bersama gorengan tadi. Dulu ketika saya masih SD, saya sering menunggu dagang blayag keliling yang biasanya akan mampir ke rumah. Keluarga saya akan berkumpul lalu membeli blayag untuk tiap orang yang sedang ada di rumah. Sekarang dagang Blayag bisa dijumpai hampir di seluruh kota Singaraja, namun rasa blayag yang tidak akan saya lupakan adalah dagang Blayag keliling yang dulu selalu saya tunggu dan berasal dari desa Penglatan dekat rumah saya.

Rujak Cuka
Ketika mendengar kata rujak, pikiran anda akan terbang ke irisan buah yang anda makan dengan  bumbu kacang. Tidak dengan saya, karena rujak Bali terutama rujak cuka bukan seperti yang tadi saya bilang. Semenjak di Jakarta saya baru tahu bahwa bumbu rujak yang dimaksud adalah kacang yang dicampur dengan gula aren, terasi, plus cabe. Sangat berbeda dengan rujak cuka yang saya kenal. Saya tidak begitu tahu apakah rujak cuka berasal dari Buleleng atau tidak, namun sewaktu saya memperkenalkannya kepada teman-teman saya yang berasal dari Tabanan, hampir semua tidak mengetahui rujak jenis ini dan hampir semua mengatakan rasa rujak ini “luar biasa” ketika mencobany. Rujak cuka tidaklah berbumbu kacang tetapi campuran dari terasi, cabe, cuka, gula aren, yang diulek sedimikan rupa lalu dicampur dengan berbagai macam buah seperti pepaya mengkel, ubi, jambu air, dan mentimun. Cara memotong buahnya (biasanya papaya dan ubi) tidak biasa namun dengan 2 cara yaitu “gobed” dan “cacah”. Gobed merujuk pada istilah mengiris buah sangat tipis dengan bantuan alat gobed sedangkan cacah yaitu memotongnya menjadi bentuk kubus, unik bukan? Segar dan pedas akan anda rasakan ketika memakan rujak cuka ini  karena anda merasakan cabe dan cuka dalam waktu yang bersamaan. Di dekat rumah saya terdapat dagang rujak cuka yang menurut saya menjual rujak dengan harga fantastis, hanya Rp.1000. Bento Jepang mungkin bisa ditukar 15 rujak cuka jika dilihat nilainya. Belakangan, saya menemukan makanan yang memiliki kemiripan dengan rujak cuka ini di luar pulau Bali bernama “asinan Bogor”
Untuk masalah dimana mendapatkan makanan tersebut saya agak bingung juga mencari jawabannya karena saya sendiri sudah lama tidak di Bali sehingga banyak rumah makan baru yang tidak saya ketahui apakah makanan-makanan di atas termasuk di dalam menunya.Yang saya tahu makanan Bali akan sangat saya rindukan saat kembali merantau di NTT. Setidaknya di NTT saya tidak menemukan makanan siap saji yang kadang bikin enek, hehe.

0 komentar: